LAUNCH GREEN BOOSTER MELALUI IMPLEMENTASI CO-FIRING BIOMASSA DI REGIONAL SULMAPANA

Saat ini, pembiayaan terhadap tek­­nologi berbasis fossil fuel semakin sulit untuk didapatkan seiring dengan fokus dunia pada pengembangan teknologi energi baru terbarukan (EBT) yang lebih sustain. Padahal, sebagian besar pembangkit PLN saat ini masih berbasis fossil fuel. Untuk itulah, dalam rangka mendukung tercapainya produksi listrik yang lebih ramah lingkungan, PLN melakukan transformasi yang salah satunya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pembangkitan yang berfokus pada EBT. Sejak April 2020, PLN telah mencanangkan 4 pilar transformasi PLN yang menjadi arah perubahan PLN, yaitu Green, Lean, Innovative dan Customer Focus. Hingga saat ini pilar transformasi tersebut telah diturunkan menjadi 20 26 breakthrough dengan jumlah sub-inisiative (SI) sebanyak 1.803 buah. Strategi transformasi pengembangan EBT tertuang dalam pilar Green, dimana transformasi ini mendorong penggunaan energi rendah karbon yang ramah lingkungan, khususnya dengan memanfaatkan energi baru terbarukan dalam penyediaan energi listrik. Salah satu breakthrough dalam pilar Green adalah Launch Green Booster melalui implementasi co-firing biomassa. Program co-firing merupakan proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar subtitusi atau campuran batu bara di PLTU. Dengan diimplementasikannya co-firing biomassa ini diharapkan dapat memicu masyarakat untuk menanam lebih banyak tanaman yang dapat mengurangi kadar CO2 di lingkungan sekitar  sekaligus dimanfaatkan untuk co-firing.

Divisi Pembangkitan dan EBT Regional Sulmapana (DIV RMK) berperan aktif dalam mendukung program Lauch Green Booster tersebut melalui implementasi co-firing pada pembangkit PLTU di seluruh Regional Sulmapana. Terdapat 12 sentral PLTU atau sebanyak 26 unit PLTU di Sulmapana

dengan daya mampu pasok total 577,83 MW yang siap berkontribusi dalam program implementasi co-firing agar tercapai peningkatan bauran EBT dalam total produksi listrik PLN sebesar 23% hingga tahun 2024.

Kontribusi Regional Sulmapana dalam implementasi co-firing 

Inisiasi pelaksanaan program co-firing pada Regional Sulmapana dimulai sejak tahun 2020, dimana PLTU Jeranjang menjadi pilot project untuk pemanfaatan biomassa sampah organik sebagai bahan bakar campuran batu bara pada pembangkit. PLTU Jeranjang menjadi salah satu pelopor dalam pemanfaatan sampah dengan jenis Solid Recovered Fuel (SRF) melalui program Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS) yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemampuan konsumsi biomassa SRF untuk PLTU Jeranjang ±45 Ton/hari dengan subtitusi bahan bakar batu bara sebesar 3%.

Baca Juga :   Agenda CB INDONESIA November-Desember 2013

Pada tahun 2021 Regional Sulmapana melakukan peningkatan produksi green energy melalui penambahan pembangkit PLTU yang mengimplementasi co-firing sebanyak 8 unit pembangkit, terdiri dari PLTU Anggrek #1, PLTU Anggrek #2, PLTU Barru #1, PLTU Barru #2, PLTU Nii Tanasa #2, PLTU Bolok #1, PLTU Bolok #2 dan PLTU Ropa #1. Total produksi green energy pada tahun 2021 mencapai 5892.90 MWh dengan persentase co-firing 1% – 5%.

Kontribusi co-firing biomassa pada tahun 2022 semakin ditingkatkan dengan proyeksi produksi green energy hingga ±2 kali lipat dari tahun sebelumnya atau sekitar 10,4 GWh dengan penambahan implementasi di 7 unit PLTU yaitu PLTU Punagaya #1, PLTU Punagaya #2, PLTU Nii Tanasa #1, PLTU Amurang #2, PLTU Ropa #2, PLTU Sumbawa Barat #1, dan PLTU Sumbawa Barat #2.

Pembangkitan Regional Sulmapana juga berkontribusi dalam menginisiasi program co-firing dengan menggunakan biomassa woodchip. Dimana salah satu unit pembangkit yang sudah mengimplementasikannya adalah PLTU Bolok. Woodchip yang digunakan berasal dari Hutan Tanaman Energi (HTE) yang dikembangkan melalui kerjasama antara UPK Timor (UIW NTT) dengan Universitas Cendana (Undana). Kerjasama ini berpotensi memberikan supply biomassa sebanyak ±7 ton/unit/hari untuk konsumsi 2% co-firing. Untuk penyediaan woodchip tersebut, dibutuhkan lahan HTE sebesar ±316 Ha. Tahun ini, UPK Timor memproyeksikan pengembangan awal HTE di lahan sebesar 303 Ha. Pengembangan HTE dan expansinya dilaksanakan secara bertahap mengingat penanaman tanaman HTE hingga dapat dimanfaatkan untuk co-firing membutuhkan waktu yang cukup lama; sekitar 1,5 tahun di tahap awal dan 6 bulanan setelah fase sustain. Keunggulan program ini adalah terciptanya simbiosis yang baik bagi lingkungan karena pemanfaatan HTE dilakukan dengan cara mendayagunakan ranting untuk co-firing, sedangkan daunnya dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi.

Baca Juga :   Jual Mika Stoplamp Lampu CB

Keunggulan lain implementasi yang dilaksanakan oleh Regional Sulmapana adalah pengelolaan co-firing biomassa dilaksanakan oleh PLN sendiri melalui unit-unit induknya. Tentu saja program-program tersebut membutuhkan anggaran untuk pengadaan equipment pendukung seperti mesin pencacah dan shelter. Bahkan pada PLTU Anggrek selain equipment tersebut, anggaran juga dialokasi untuk pengadaan mesin dryer yang didesain sendiri. Pengadaan barang dan jasa terkait co-firing tersebut dikelola oleh unit-unit setempat dan beberapa diantaranya bersinergi dengan pemerintah daerah setempat dalam lingkup penyediaan biomassa.

Tantangan dalam pelaksanaan implementasi co-firing

Dalam mengimplementasikan co-firing, pembangkitan Regional Sulmapana menghadapi tantangan yang umum dihadapi oleh seluruh pembangkit.

Sustainabilitas ketersediaan pasokan biomassa menjadi tantangan paling utama untuk menjalankan co-firing secara kontinyu. PLN berkewajiban menyediakan sustainable raw material dan menyeimbangkan dengan persediaan land use agar memadai untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. Hingga saat ini, unit PLTU di bawah Regional Sulmapana hanya mampu melaksanakan kontrak pengadaan biomassa paling lama 1 tahun, selebihnya kontrak yang dilaksanakan bersifat jangka pendek dan spot. Hal itu menunjukkan bahwa sumber biomassa sangatlah terbatas atau belum tereksploitasi pendayagunaannya secara maksimal. Keterbatasan biomassa tidak hanya disebabkan karena kelangkaan sumbernya, akan tetapi beberapa jenis biomassa juga terbatas karena produksinya bergantung pada musim tertentu seperti tongkol jagung dan sekam padi. Untuk mengatasi hal tersebut, setiap unit PLTU di Sulmapana selalu mencari alternatif-alternatif sumber biomassa baru di luar sumber bahan baku yang tersedia saat ini.

Harga biomassa juga menjadi kendala utama dalam menjalankan program co-firing. Di wilayah tertentu, harga biomassa bisa melebihi harga batu bara. Hal ini bisa diakibatkan dari adanya biaya tambahan seperti biaya transportasi untuk mengangkut biomassa dari lokasi sumber ke PLTU. Selain itu, beberapa jenis biomassa seperti pellet membutuhkan treatment tertentu dalam pengolahannya, sehingga muncul tambahan biaya tenaga kerja dan tools. Adakalanya, sumber biomassa yang pada awalnya tidak memiliki nilai keekonomisan sama sekali, dengan adanya program co-firing ini, masyarakat menjadi sadar bahwa biomassa —bahkan seperti sampah organik sekalipun— dapat dijual. Hal itu mendorong terjadinya kenaikkan harga biomassa. Berkaca dari pengalaman tersebut, maka setiap unit pembangkit berusaha untuk membuat kontrak-kontrak dengan skema-skema yang dapat mendukung efisiensi biaya co-firing namun tidak merugikan masyarakat penyedia biomassa.

Baca Juga :   Tips Memilih Investasi Digital di Masa Pandemi

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kehandalan beberapa pembangkit PLTU di Sulmapana masih tergolong rendah. Beberapa pembangkit PLTU di Regional Sulmapana sedang memasuki fase infant mortality dimana gangguan yang menimbulkan outage dan derating masih banyak terjadi. Hal tersebut membuat pelaksanaan co-firing menjadi terhambat. Tantangan operasional tersebut masih ditambah dengan adanya beberapa pembangkit yang di-dispatch dengan beban rendah bahkan Reverse Shutdown  (RSH). Dengan kondisi seperti itu, maka unit pembangkit di Sulmapana selalu berusaha membuat perencanaan yang matang terhadap pemeliharaan dan monitoring pembangkit.

Improvement Dalam Pelaksanaan Co-firing

Divisi Pembangkitan dan EBT Regional Sulmapana berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya berkelanjutan agar program co-firing tetap dijalankan hingga target bauran energy EBT terpenuhi. Pengujian-pengujian co-firing dengan persentase biomassa yang lebih tinggi terus dilaksanakan; pencarian alternatif biomassa tetap dilanjutkan; sinergi dengan instansi-intansi akademis, pemerintahan setempat dan UMKM terus diinisiasi; survey lahan untuk menggali potensi pengembangan HTE akan terus dijajaki. Dengan improvement tersebut diharapkan peningkatan pemakaian biomassa untuk co-firing dapat terjadi secara signifikan, sehingga tujuan besar co-firing untuk pendayagunaan energi yang ramah lingkungan dapat tercapai.

“The future is green energy, sustainability, renewable energy”  (Arnold Schwarzenegger)

Leave a Reply